[Oneshot] My Boyfriend is My Patient

image

Author : viesayoonaddict
Tittle : My Boyfriend is My Patient
Main Cast : Im Yoon Ah, Kim Jong Woon, Kim Taeyeon.
Genre : Sad (?), Romance.
Rating : G

Annyeong… ^^ aku comeback lagi nih… kali ini aku bawa FF YeYoon Couple. Adakah yang suka dengan couple ini? #krikrikrik #sunyi-.-

Oke oke… dari pada author yang satu ini kebanyakan ngomong… mending langasung aja ke ceritanya…

Don’t bash and don’t copaste…

Happy Reading ^.^

Yoona Pov.

Dengan langkah terburu-buru, aku berjalan keruang UGD ditemani seorang suster yang berada tepat dibelakangku. Perkenalkan, Namaku Im Yoon Ah. Aku adalah seorang Dokter yang bekerja diHealt Hospital. Sudah 2 tahun aku bekerja disini. Usiaku saat ini adalah 22 tahun, umur yang sangat muda untuk menjadi seorang dokter. Tapi jangan remehkan keahlianku dalam bidang kedokteran, aku cukup ahli dibidang ini.

Cklek.

Aku buka pintu ruang UGD. Aku lihat kearah ranjang, seorang pria dipenuhi lumuran darah ditubuhnya. Kasian sekali pria ini.

Aku gunakan masker untuk menutup mulut dan hidungku. Aku periksa keadaan pria yang sedang berbaring di ranjang ini. Mulai dari detak nadi, jantung dan darah.

“suster Park, pria ini kehilangan banyak darah. Tolong ambilkan persediaan darah golongan AB.” ucapku tegas.

Kembali aku fokus pada pria ini. Aku bersihkan darah yang terus mengalir dari kepalanya sambil menunggu Suster Park kembali. Dengan dibantu dua suster aku berusaha menghentikan pendarahan pada kepala pria ini dan.. BERHASIL. Yeah, kau hebat Yoona.

“Dokter Im. Persediaan darah golongan AB kosong.”

“kalau begitu, ambil stok golongan darah O.” ucapku sedikit panik.

“Stok golongan darah O juga sudah kosong, dokter Im.” ucap Suster Park membuatku sedikit kaget. Sudah habis? Perasaan kemarin saat aku lihat, stok darah masih cukup banyak.

Perlahan aku berjalan kearah pintu ruang tunggu untuk keluarga Pasien. Tepat saat aku keluar, semua orang yang tadi sibuk dengan diri masing-masing kini menatapku serius.

“dok, bagaimana keadaan anakku?” ucap seorang pria paru baya. Sepertinya ini Ayah dari pasien.

“pasien banyak mengalami kekurangan darah. Kami saat ini membutuhkan Golongan darah AB. Kebetulan, stok darah golongan AB dirumah sakit ini sudah kosong, Tuan Kim” ucapku tenang.

“kalau begitu, ambil darahku dok. Golongan darahku AB, sama seperti Yesung.” ucap seorang gadis. Ia bangkit dari duduknya lalu menghampiriku.

“baiklah, silahkan anda ikuti saya. Akan saya chek dahulu darah anda. Saya permisi Tuan.” ucapku lalu pergi meninggalkan keluarga pasien.

Dapat aku dengar langkah kaki seseorang yang mengikuti langkahku. Tidak butuh waktu lama, aku telah sampai ditempat dan mengajak gadis itu masuk.

“silahkan anda berbaring nona. Biar saya periksa kestabilan darah anda.”

Gadis itu hanya menurut. Dengan serius aku memeriksa keadaan darahnya. “nama anda siapa nona?” tanyaku.

“Kim Taeyeon.”

Kembali suasana hening. Gadis ini sangat cantik. Aku kagum dengan kecantikannya. “okey, darah anda stabil. Ikuti saya, nona. Kita keruang pasien.” ucapku lalu melangkah mendahului gadis bernama Taeyeon itu.

Cklek.

Setibanya diruang UGD, aku langsung menyuruh Taeyeon berbaring di ranjang sebelah pasien yang sudah disiapkan oleh para suster. Aku ambil selang untuk mendonor darah. “maybe, ini akan sedikit sakit, nona.” ucapku lalu memasangkan salah satu ujung selang dilengan kirinya. Ujung selang yang satu lagi aku pasangkan dilengan kanan pasien.

Moga ini berjalan sukses.

.

.

Setelah terjadinya pendonoran darah. Kondisi pria ini makin membaik. Hanya perlu menunggu waktu ia sadar. Kalau boleh aku jujur, pria ini sangat tampan dimataku.

“doker Im, kapan putraku akan sadar dari tidurnya? Ini sudah satu bulan ia berbaring tidak sadarkan diri.”

Aku mendengar suara lirih seorang wanita dari arah sampingku. Aku tau, itu adalah ibu dari pasien. “aku kurang tahu itu nyonya Kim. Hanya tuhan yang tahu itu. Tetaplah berdoa agar pasien Kim sadar dari tidurnya.” ucapku setelah selesai memeriksa pasien. “saya permisi dulu nyonya. Kalau perlu sesuatu, tinggal panggil saya saja.” ucapku diselingi senyum tipis.

“Ne, i know docter Im.” wanita paru baya itu membalas senyumku.

Perlahan aku melangkah meninggalkan ruang rawat pasien. Yap, saat ini pasien yang bernama Kim Jong Woon itu sudah dipindahkan keruang rawat, ia sudah dipindahkan dari ruang UGD.

Kalau boleh aku jujur. Sepertinya aku tertarik dengan pasienku yang satu ini. Kim Jong Woon, Kau membuatku seperti layaknya orang gila.

.

– My Boyfrien is My Patient –

.

Dengan langkah terburu-buru aku berjalan keruang rawat nomor 315. Barusan aku mendapat panggilan dari lampu hijau yang menyala dengan nomor 315. Perlahan aku buka pintu ruang rawat tersebut. Dapat aku lihat, beberapa anggota keluarga pasien mengelilingi pasien. Dengan cepat aku melangkah mendekati ranjang pasien.

“oh.. Dokter Im, akhirnya kau datang juga.” ucap nyonya Kin lalu tersenyum manis padaku. Aku balas senyum itu sekilas lalu beralih pada pasien.

Aku periksa kondisi pasien ini. Detak nadi normal, detak jantung normal dan darahpun stabil. Kondisinya sudah membaik. “apa kau merasa lebih baik pasien Kim?” tanyaku lembut padanya. Hanya dibalas anggukan olehnya.

Aku tatap matanya yang sedang menatapku saat ini. Aku beri ia senyuman termanisku. Lalu berbalik menghadap nyonya dan tuan Kim.

“kondisi pasien Kim sudah sangat membaik. Ia hanya perlu berlatih menggerakan anggota tubuhnya yang kaku. waktu latihan tidak lama, hanya empat hari atau tidak satu minggu untuk pasien Kim.” ucapku lalu tersenyum tulus. “anggota keluarga dari pasien Kim boleh membantunya berlatih. boleh juga diwakili oleh orang lain.” lanjutku.

“Jeongmal? kalau begitu, aku minta tolong padamu Dokter Im. Bantu putraku agar kembali pulih. aku sudah terlalu tua untuk membantunya. Putriku, taeyeon ia selalu sibuk dengan pekerjaannya.” ujar Ibu pasien yang membuatku sedikit terkejut.

“tapi..”

“kumohon Dokter Im.” kini giliran Ayah dari pasien Lee yang bicara.

Huftttt, tidak ada pilihan lain. “Arra. Akan aku usahakan Tuan dan Nyonya Kim. Saya permisi dulu.” ucapku lalu pergi meninggalkan ruang rawat Pasien Kim. Sebenarnya aku cukup senang bisa membantu Pasien Kim untuk kembali sembuh. Ini adalah kesempatanmu Im Yoon Ah. Dekati Pria itu. Curi hatinya.

.

– My Boyfriend is My Patient –

.

Dengan senyum mengembang, aku berjalan sambil mendorong kursi roda pasien Kim ke ruang latihan. Aku sudah meminta pada Ayahku, selaku pemilik rumah sakit tempat aku bekerja untuk mengurangi pekerjaanku dirumah sakit ini. Awalnya ayah menolak mentah-mentah tawaranku. Tapi akhirnya, dengan sejuta rayuan yang aku lontarkan pada ayahku akhirnya ia meng’iya’kan ucapanku.

Sesampainya diruang latihan, aku mendorong kursi roda pasien Kim ke tempat untuk melemaskan otot jarinya. Disana hanya tersedia karet panjang yang fungsinya untuk melemaskan otot jari. Awalnya Pasien Kim harus aku bantu, tapi setelah itu ia mulai mencobanya sendiri. Dapat aku lihat, ia tersenyum senang. Aku balas senyum itu dengan tepuk tangan kecil.

Setelah kami melemaskan otot jari-jari pasien Kim yang Kaku, sekarang kami beralih ke tempat pelemasan otot lengan. Disana, pasien Lee harus menarik karet panjang ke arah depan. Itu harus terus diulang sampai otot lengan terasa lebih nyaman dari sebelumnya. Aku yang awalnya berniat ingin membantu, tapi ditolak halus olehnya. Katanya ia ingin mencoba sendiri. Tapi tidak lama setelah itu aku mendengar ringisan pasien Kim. Yap, sepertinya otot tangan pasien Kim menegang. Itu bisa terjadi karena gerakan tiba-tiba.

“sudah aku bilang apa, biar diawal aku yang bantu. Itulah gunanya aku disini.” bicaraku lembut lalu meraih tangannya. “mungkin ini sedikit sakit, tahan ya.” lanjutku.

Perlahan aku menarik lurus tangan pasien Kim. Dapat aku dengar ringisan dari bibirnya. Tapi tidak lama setelah itu, suara ringisan pasien Kim sudah tidak terdengar. Dengan perlahan aku menurunkan tangannya lalu tersenyum tipis padanya.

“apa kau mau langsung latihan untuk melemaskan otot kaki?”

“Ani, aku ingin istirahat di bangku itu dulu.” tunjuk pasien Kim pada bangku panjang yang memang disengaja disiapkan untuk ruangan ini.

Perlahan aku membantunya berjalan. Tangan kanannya berada dibahuku, sedangkan tangan kiriku memegang pinggangnya. Sungguh, posisi yang sangat romantis bukan?

“ternyata kau berat juga pasien Kim.” ujarku meledeknya.

“Dokter Im, kau tidak perlu memanggilku Pasien Kim. tidak perlu berbelit-belit. Cukup panggil aku Yesung Oppa.” bicaranya lembut.

“baiklah Oppa. Kau juga tidak perlu memanggilku Dokter Im, Cukup Yoona saja.” akupun tersenyum kearahnya dan iapun membalas senyumku. “apa kita mau melanjut lagi latihannya untuk melemaskan otot kakimu yang tegang itu oppa?”

“Ne.”

.

.

Tidak terasa. Sudah tujuh hari Yesung Oppa bersamaku. Berarti ini hari terakhirku bersamanya. Uh.. Oppa.. aku tidak mau pisah darimu.

Saat ini aku sedang berada di Taman rumah sakit ditemani Yesung Oppa yang sedang duduk di kursi roda. Sesekali aku melirik kearah Yesung oppa. ‘pasti aku akan merindukanmu.’ batinku.

Aku dan Yesung Oppa saling diam, tidak ada yang ingin membuka suara. Kok jadi terasa canggung begini sih? Aku benci kalau aku dan Yesung Oppa saling diam.

Tidak jauh dari posisiku berdiri, aku lihat ada sebuah bangku taman yang kosong. Perlahan aku berjalan ke arah bangku taman dan duduk disana. Ah, ternyata ini sangat melelahkan.

“hei.. aku juga ingin duduk disana.” ucap Yesung oppa. “bantu aku.” lanjutnya.

“aish..Oppa.. kalau mau berdiri, tinggal berdiri saja. jangan manja oppa.” ucapku pura-pura marah.

Aku lihat, perlahan Yesung oppa bangkit dari kursi rodanya. Gerakannya masih terlihat agak lambat. Diapun duduk tepat disebelahku.

“Oppa. ternyata semua yang kita inginkan itu tidak akan pasti menjadi milik kita, ya oppa. mungkin kata-kata itu akan terjadi pada diriku.” bicaraku pelan, menundukan kepala lalu kembali mendongakkannya.

“maksudmu apa yoong?” aku bisa lihat dari mata Yesung oppa yang menunjukan kebingunganbya padaku.

“oppa, bolehkah aku mengatakan ini?” ujarku pelan. “oppa.. apa salah jika aku…” lama aku menjedakan ucapanku. “… aku memcintaimu oppa?” setelah mengucapkan kata-kata itu aku langsung menundukan kepalaku dalam. Hufttt… ada rasa sedikit lega dihatiku saat mengungkapkan rasa cintaku.

“kalau boleh aku jujur. Aku nyaman saat ada disisimu selama seminggu ini oppa. aku merasa hidupku lebih berwarna karena kau.. ak~” ucapanku terhenti oleh ciuman Yesung Oppa pada bibirku. Apa? Apa ini mimpi? jika ini mimpi, aku mohon jangan bangunkan aku.

Aku masih mematung tidak percaya dengan reaksi Yesung oppa. Ia menciumku lembut, tidak ada nafsu. Mataku menatap matanya yang terpejam. Wajahnya begitu dekat denganku.

Perlahan aku rasakan ciuman itu ia lepaskan. Dahinya menempel di dahiku dan hidung kami bersentuhan. Aku tidak percaya ini, Yesung Oppa melakukan ini padaku?

“Yoong. inilah kata-kata yang aku tunggu dari mulutmu sejak lama. Saat aku melihatmu pertama kali, aku langsung terpesona denganmu. Aku ingin mengungkapkan kata-kata kalau aku mencintaimu. Tapi aku takut kau menolakku. Tidak aku sangka, ternyata kau mencintaiku juga Yoong.” ucap Yesung lembut dan kembali mencium bibirku.

Wajahnya ia miringkan untuk memperdalam ciumanku. Akupun menutup mataku, menikmati setiap inci ciuman yang Yesung berikan padaku. Aku larut dalam sentuhan lembutnya. Ini pertama kalinya aku berciuman dengan seorang pria. Jadi, inikah yang dinamakan Cinta? cinta yang terbalas. Aku mencintaimu Oppa.

.

.

.

.

The End..

Iklan

15 pemikiran pada “[Oneshot] My Boyfriend is My Patient

  1. yakkk eonni ketinggalan belum baca …MIANHAEEEEEEYOOOOOO yah 😀 …
    komen…komen…komen….
    oh…jadi Yoona jadi dokter disini toh… Yeppa jadi pasien…*ngiming-ngiming bukan pasien gila kan yah >,,< …
    udah ah cape ngomen mulu….ceritanya bagus …tapi kuraaanggggg panjjaanggggggggg
    hehheehhehe….bye …
    FIGHTING Saengie … (^-^)9 !!!!!!!

  2. YeYoon _<
    Thor bikin sequel dong kan itu endingnya masih ngegantung 😀
    Okay deh thor fighting ne 😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s