Mystery In Tragedy (Part 3)

image

Author : viesayoonaddict
Main Cast : Im Yoon Ah
Other Cast : (Cari sendiri)
Genre : Mystery, Action, dll
Tittle : Mystery In Tragedy
Rating : PG
Chapter : Part 1 | Part 2

Annyeong haseyo ~.~ aku comeback dengan part 3… please… tinggalkan jejak…. Please…  -.- #nangisdipojokan #lebay

Dr pada authornya ngomong mulu, mending langsung aja keceritanya…

CEKIDOT…

DON’T BASH AND COPASTE

~ Mystery In Tragedy ~

Kertas Kusam, patahan Kayu dan juga sebuah nama beruliskan Hanggeul. Yeah, Yoona dengan otak cerdasnya mampu mengartikan semua itu. Tapi, apakah itu akan menjadi sebuah bukti yang kuat? siapa itu Luhyeon? dan siapa korban sebenarnya? Mystery In Tragedy…

~ Mystery In Tragedy ~

Langit tanpa awan, teriknya sinar matahari memanggang kulit setiap orang yang berlalu-lalang dijalan. Banyak orang memilih berdiam diri dibawah gedung-gedung tinggi untuk melindungi diri mereka. Lain halnya dengan seorang Wanita dan Pria, dengan gagahnya mereka berjalan tidak memperdulikan teriknya matahari siang itu. Dengan pakaian sederhana dilengkapi topi mereka berjalan menuju sebuah Mall yang memang letaknya tidak jauh dari Apartemen Yoona.

“Yoong, bisakah kau perlambat langkah kakimu? Aku lelah..” ujar Key saat mereka berada tepat di ambang pintu masuk Mall.

Yoona yang mendengar itu langsung saja menghentikan langkah kakinya dan membalikkan tubuhnya kearah Key. Ditatapnya Key dalam diam. Key yang melihat tatapan Yoona itu hanya bisa diam, digaruknya tengkuk kepalanya yang sebenarnya tidak terasa gatal.

Kembali Yoona melangkahkan kakinya, kali ini ia memperlambat langkahnya dan terlihat santai, tidak terkesan kaku oleh orang lain. Sesampainya mereka ditempat tujuan, mereka langsung disambut hangat oleh seorang gadis. Yoona hanya diam dan terus masuk, sedangkan Key menatap genit gadis itu. Dikedipkan sebelah matanya kepada gadis itu dan dibalas cengiran oleh gadis itu.

Kembali Key menyusul Yoona yang telah duduk di bangkunya. “Kau mau pesan apa?” ujar Key sambil menduduki bangkunya tepat dihadapan Yoona. Yoona menghiraukan ucapan Key, dipanggilnya pelayan restaurant tersebut dan memesan makanan yang ia inginkan. Key yang melihat itu memandang kesal kearah Yoona.

“Wae? kau ingin makan atau tidak? jangan hanya menatapku saja.” ujar Yoona.

“aku sama sepertimu saja.”

Setelah pelayan itu pergi, suasana hening kembali menyelimuti mereka. Diam tanpa suara. “Bisakah nanti kau mengatarku ke gudang tempat kejadian pembunuhan yang pertama?” ujar Yoona.

“Akhirnya kau angkat bicara juga.” bicara Key. “Baiklah.” lanjutnya.

Tidak butuh waktu lama, pesanan merekapun tiba. Key menatap senang pesanannya dan langsung melahapnya. Ia hiraukan pandangan pelayan yang masih ada disana yang sedang meletakkan pesanan Yoona secara perlahan.

“Selamat menikati makanan anda, dan makanlah secara perlahan.” ujar pelayan tersebut dan menundukkan badannya memberi hormat. Ditinggalkannya Yoona dan Key.

“Sepertinya, dari ucapannya itu sedikit mengandung hinaan yang mendalam?” ujar Key yang masih menatap pelayan tersebut dengan kesal.

“itu salahmu yang terlihat bodoh saat makan.” ujar Yoona dengan suara yang dilembutkan namun terdengar kasar ditelinga Key.

“Terserah kau saja, Yoong.”

***

Alunan musik lembut terdengar indah di telinga, membuat yang mendengar ingin ikut bernyayi dan bergoyang lembut. Dengan laju mobil yang standar seorang gadis membelah jalan kota. Suara indahnya mengisi kesunyian didalam mobilnya.

“andai lagu ini mengisahkan tentang diriku, pasti sangat romantis dan indah.” ujar gadis itu, siapa lagi kalau bukan Jessica.

Kringggg…

Terdengar bunyi nyaring handphonenya. Dengan malas Jessica mengangkatnya dengan menyambungkan earphonenya, tidak ia lihat nama si penelpon.

“Yeobeoseyo.. Nuguya?”

“Noona… Yoongie dimana? saat aku keapartemennya, disana sepi. Sepertinya Yoona tidak ada disana.” ujar si penelpon panjang lebar.

“Akupun tidak tau, Kyuhyun.”

Klik..

Ditekannya tombol mematikan sambungan telpon. Raut wajahnya yang terlihat senang langsung berubah menjadi kesal. “buat apa ia mencari Yoona terus?” gumam Jessica lirih. Ditambah laju kecepatan mobilnya untuk mempercepat sampai ke apartemennya.

Tidak butuh waktu yang lama, ia telah sampai di gedung apartemennya. Diparkirkannya mobil Audinya dan mematikan mesin Mobilnya, tidak lupa tas kerjanya ia bawa ke apartemennya.

Dengan gaya jalannya seperti ala model, sesekali ia mengibas-ngibaskan rambutnya yang tertiup oleh angin. Mungkin ini memang terlihat seperti gadis genit. Ini sangat berbeda dari karakter diri Yoona yang terkesan dingin dan tidak peduli dengan penampilan.

“NOONAA..”

Terdengar suara teriakan yang tidak asing lagi di telinga Jessica, ini bukan suara Kyuhyun, tapi ini Key yang meneriakinya. “Hey..” ujar Jessica membalas panggilan Key. Dipercepat langkah kakinya mendekati Key yang sedang berdiri tepat disebelah Yoona.

“Tumben eonni pulang cepat?” bicara Yoona lembut.

“Ye, eonni diperbolehkan oleh Boss Lee untuk beristirahat samapi Lusa nanti, tugas eonni digantikan sementara waktu oleh Sunny.” ujar Jessica panjang lebar dan dibalas anggukan oleh Key.

“Wae?” tanya Yoona heran.

“Eonni ada Meeting penting bersama Boss di Osaka lusa nanti.”

“Kalau be~”

“dan kau tidak boleh ikut.” potong Jessica yang sudah tau apa yang akan dibicarakan Yoona.

“Tidak bisa Eonn. Kau tau tidak dengan masalah khasus pembunuhan yang sedang terjadi di jepang? ini sangat berbahaya. Aku tidak ingin eonni kenapa-napa..” ucap Yoona tulus.

“percayalah pada eonni, Eonni akan baik-baik saja..” ujar Jessica. Ditatapnya Yoona tulus dengan senyum tipisnya yang menghiasi wajahnya.

Key yang melihat kejadian dramatis itu didepan matanya sendiri hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya heran. Beginilah tingkah Yoona jika Eonninya itu akan pergi jauh dari dirinya. Tidak segan-segan ia akan terus membuntuti eonninya seolah-olah dia adalah seorang bodyguard yang sedang menjaga majikannya.

“Oke, Sampai disini saja dramanya. Kapan kita akan ke gudang, Nyonya Im?” tanya Key yang membuat Yoona sadar dengan tingkahnya. Yoona alihkan pandangannya dari Key. “Aku sudah menelpon pihak polisi, mereka akan mendatangkan 2 mobil unit kepolisian ke gudang tersebut.” Lanjut Key. Kali ini pandangan Yoona beralih kearah Key. Tatapannya kembali seperti semula, datar dan terkesan tajam. Jessica yang melihat itu hanya tersenyum tipis melihat karakter asli Yoona kembali seperti semula.

“baiklah.. Aku akan kembali keapartemen untuk menyiapkan sesuatu.. Bye.” bicara Jessica dan meninggalkan mereka berdua yang masih berdiri diam menatap kepergiannya.

“baiklah.. Kajja..” ditariknya tangan Yoona menuju Mobil yang terparkir. Yoona yang diperlakukan seperti itu hanya diam dan menerimanya saja.

.
.

Setibanya di gudang, Yoona dan Key disambut hangat oleh beberapa polisi yang telah datang lebih dulu dari mereka. Sebelum masuk, Yoona dan Key memakai penutup hidung, senter yang menempel dikepala mereka dan sarung tangan. Yoona yang telah siap melihat kearah yang lain, dilihatnya mereka telah selesai dan sedikit menganggukkan kepalanya. Key yang mengerti kode tersebut membalas kode tersebut dan memerintahkan para polisi untuk berjalan terlebih dahulu.

“Berpencar..” bicara Yoona saat berada diambang pintu gudang.

Key berjalan kearah kiri ditemani 2 orang polisi,  2 Orang polisi lainnya mencari ditengah dan Yoona ditemani 1 orang polisi mencari disebelah Kanan. Makin kedalam, makin terasa bau amis tersebut.

“apa kau sudah melihat sesuatu?” bicara Yoona pelan dan dibalas gelengan kepala oleh polisi tersebut.

.

Di posisi Key, ia masih saja terus mencari ke segala titik sudut, berharap menemukan sesuatu. Dipelototkan matanya berharap itu akan menambah ketajaman penglihatannya. Sesekali ia mengibaskan tangannya yang masih bisa merasakan bau pada hidungnnya.

Krek…

“Au..” terdengar erangan seseorang dari arah sebelah kiri Key. Diarahkan pandangannya kearah orang yang mengerang tadi.

“kau tidak apa-apa?” ucap Key sambil membantu polisi itu berdiri. Polisi itu hanya memgangguk mengiyakan ucapan Key. “tunggu.. Lantai ini dari Kayu.. Ini luar biasa, lantai ini terlihat dan seperti dari tanah, tapi ternyata dugaanku salah. Ini dari Kayu..” gumam Key lirih.

“Bantu aku merobohkan lantai ini.. dan Hati-hati..” ujar Key sambil memberi 2 palu pada polisi itu.

.

Kembali ke posisi Yoona, disana ia masih saja melangkahkan kakinya dengan hati-hati. Didongakkannya kepalanya kearah langit-langit gudang. Betapa terkejutnya ia melihat itu, dilihatnya sebuah tangan dan hanya memiliki 2 jari terikat kuat diatas sana.

“OMO… coba kau lihat itu..” ujar Yoona sambil menunjuk kearah langit-langit gudang. “Tekan tombol pemanggil, agar mereka kemari.” desak Yoona.

TRETTT…

Bunyi nyaring itu terdengan di setiap sudut Gudang, termasuk Key dan para polisi lain yang mendengar bunyi tersebut dengan segera berlari kearah bunyi tersebut.

“Ada apa Yoong..?” bicara Key panik. Yoona hanya bisa menunjuk kearah atas dan dengan cepat Key mengarahkan pandangannya kearah aras.

“OMG..” gumam Key kaget. Dengan langkah perlahan ia mendekati Yoona dengan tatapan yang masih diarahkan ke atas. Tatapan tidak percaya sangat jelas terlihat dari raut wajah Key. Tidak ia sangka, ternyata masih ada potongan tubuh manusia yang bersebaran di gudang ini.

Yoona yang terbengong kembali sadar ke alam nyata, ditepuknya 2 pundak para polisi dan memerintahkan mereka mengambil tangga, kantung jenazah, plastik dan pisau.

“Bisakah kalian bertiga kembali mencari potongan mayat lain?” bicara Yoona bisik dan dibalas anggukan ke-3 polisi itu.

Suasana diantara Yoona dan Key kembali hening, banyaknya keringat yang keluar dari tubuh mereka menunjukkan bahwa hawa dalam gudang itu sangatlah panas. Tidak lama setelah itu, dua orang polisi tadi kembali muncul dengan sebuah tangga yang cukup panjang di bahu mereka.

“pegang ini yang kuat” ujar Key.

“mana pisau dan plastiknya?” tanya Yoona. Polisi itu menyerahkan pisau dan plastik hitam itu pada Yoona. Dengan perlahan Yoona menaiki tangga tersebut, dengan sigap Key menahannya.

“biar aku saja..”

“tidak, aku bisa Key. Tenang saja..” bicara Yoona pelan dan lembut. Perlahan genggaman Key pada Yoona mengendur, membiarkan gadis itu menaiki tangga yang cukup tinggi itu.

Dinaikinya setiap anak tangga yang ia injaki. Sesampainya di tangga paling atas, dapat ia lihat potongan tangan itu secara jelas. Bau yang amat busuk dapat ia rasakan disana dan belatung-belatung yang menempel di tangan tersebut. Didekatkannya pisau itu kearah tali yang menahan tangan itu agar tidak jatuh. Dengan perlahan ia ambil tangan itu dan memasukkannya kedalam pelastik. Diikatnya kuat plastik itu dan menuruni setiap anak tangga. Saat hampir sampai di bawah, langsung saja Key memegang tangan Yoona agar gadis itu tidak terjatuh. Yoona berikan kantung plastik itu kepada polisi didekatnya.

“kau tidak apa-apa?” ujar Key sambil melihat tubuh Yoona dari ujung kepala hingga ujung Kaki.

“Ye.” balas Yoona. Terdengar helaan nafas lega dari mulut Key. Tanpa Key sadari, Yoona tersenyum tipis dan kembali mendatarkan wajahnya.

“Kajja, kita cari ditempat yang lain..” ujar Yoona.

Kembali mereka melangkahkan kaki mereka, berjalan menelusuri setiap plosok gudang. Dengan erat, Key menggenggam tangan Yoona, membawa gadis itu ke suatu tempat.

“Yoong.. Coba kau lihat ini..” ujar Key dambil menunjuk lubang besar yang ia buat tadi bersama 2 polisi lainnya.

“Astaga.. ternyata, ubin ini hanya dari sebuah kayu? tidak aku sangka.” gumam Yoona. Ia memposisikan dirinya menjadi Jongkok. Dirogohnya tas selempang kecil yang ia bawa sedari tadi. Diambilnya sebuah benda lalu memukul-mukulkannya kearah lantai. Dapat ia lihat, dibawah lantai masih ada sedikit cela sebesar 2 jengkal tangan manusia. “Key, jangan hanya diam saja, bantu aku..” omel Yoona sambil menatap Key yang sedari tadi berdiam diri menatapnya.

Sadar akan tingkahnya, Key ikut memposisikan dirinya disebelah Kanan Yoona. Diambilnya palu yang berada ditas selempangnya. Ia ikuti kegiatan Yoona, memukul-mukul kencang ubin kayu tersebut, bahkan tenaganya terlihat lebih kuat dari Yoona.

Terlihat di tubuh mereka, keringat membasahi tubuh mereka, mereka bagaikan mandi keringat. Sesekali Yoona menyeka keringat di wajahnyanya sendiri dengan melapnya ke lengan bajunya. Sama halnya dengan Key.

30 menit kemudian..

Kali ini mereka melakukan pembongkahan lantai kayu itu secara bersama dengan ke 5 polisi tadi. Terbentuk sebuah lubang besar disana. Dapat Yoona lihat, di hadapannya terdapat beberapa belatung yang membuatnya sedikit merinding. Kembali ia memukul-mukulkan palunya pada lantai kayu tersebut sampai akhirnya ia menghentikan pukulannya saat mendengar panggilan dari salah satu polisi yang jaraknya tidak terlalu jauh darinya.

“Nyonya Im.. lihat ini..” panggil polisi tersebut.

Dengan langkah perlahan Yoona berjalan beriringan dengan Key, memutari lubang besar yang mereka buat dan mendekati polisi tersebut. Dilihatnya kearah lubang dekat polisi tersebut. Kali ini ia lebih membulatkan matanya. Dilihatnya sebuah kepala dan ia yakini itu adalah kepala seorang wanita. Wajahnya sudah rusak tidak berbentuk dan dagingnya menghitam busuk. Yoona alihkan pandangannya ke arah Key, kali ini ia tidak mau memegang mayat tersebut. Sungguh, jika kalian ada diposisi Yoona, kalian akan merasakan hal yang sama seperti Yoona.

“Angkat kepala itu, masukkan ke dalam kantung mayat.” bicara Key yang masih saja menatap kepala mayat tersebut.

Dengan gerak cepat, 2 orang polisi mengangkat kepala mayat tersebut dengan memegang rambutnya sedangkan seorang polisi menyiapkan kantung mayat itu. Secara perlahan diletakkannya kepala mayat tersebut dan menutupi kepala tersebut dari penglihatan orang.

“lebih baik sampai disini saja, Yoong. Disini panas dan bau, aku sudah tidak kuat.” ujar Key dan melihat kearah Yoona.

“Baiklah..” balas Yoona.

Dengan langkah beriringan, Yoona, Key, dan kelima polisi tersebut keluar dari dalam gudang. Serasa bagaikan surga saat mereka berada di luar gudang. Angin sepoi-sepoi menerpa tubuh mereka. Oksigen yang segar membuat otak mereka kembali rilex. Mereka buka senter yang menempel di dahi mereka dan membuka masker yang menutupi mulut dan hidung mereka.

“akan aku antar kau puang terlebih dahulu.” bisik Key tepat di telinga Yoona. Yoona yang tadinya menatap lurus kedepan mengalihkan pandangannya sekarang kearah Key. Diangguk-anggukkan kepalanya pelan menyetujui perkataan Key.

“itu memang kewajibanmu.” bicara Yoona.

“dan.. aku bukanlah supirmu.” bicara Key sedikit kesal karena ucapan Yoona mengandung sedikit hinaan pada dirinya.

~Mystery In Tragedy~

Sesampainya di depan Gedung apartemen, dengan sigap gadis itu keluar dari mobil Key dengan membawa jubahnya yang ia tenteng ditangan. Diluar Yoona memberi salam perpisahan kepada Key lalu kembali berjalan memasuki gedung apartemen. Setelah Key lihat Yoona benar-benar tidak terlihat, langsung saja ia tancap gas, tidak memerdulikan teriakan terkejut beberapa orang yang berada didekat mobil Key.

.

Tit.. Tit.. Tit..

Ditekannya tombol password untuk memasuki gedung apartemennya. Dengan keadaan yang lelah ia berjalan bagaikan orang mabuk kearah soffa. Direbahkan tubuhnya dengan tangan yang menutupi sebagian wajahnya.

“Huek… kau bau sekali..”

Terdengar suara yang tidak asing lagi bagi Yoona, ia buka matanya dan sedikit menggeser posisi tangannya agar tidak menghalangi penglihatannya. “Kau ~”

“Cepat mandi dan jangan membantah.” omel orang itu siapa lagi kalau bukan Jessica. Dilemparkannya handuk kearah Yoona.

Dengan lagak seperti orang malas, Yoona bangkit dari duduknya dan berjalan kearah kamarnya. Jessica yang melihat itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya heran dengan tingkah laku yeodongsaengnya itu.

.
.

“Parfume sudah. Lipstick sudah. Eye Shadow sudah. Circle Lens sudah. Concealer Brushsudah. Wedge Sponge sudah. Smudge Brush sudah. Bedak belum…” gumam Jessica pelan sambil memasukkan segala alat make upnya. “WHAT.. bedak mana? bedak mana?” panik Jessica. Diobrak abriknya lemari bajunya, mencari disetiap sisi lemari dimana bedak miliknya.

Yoona yang tengah mengeringkan rambut dengan handuknya hanya menatap malas kakaknya itu. Kebiasaan buruk kakaknya selalu saja kambuh disaat-saat yang penting.

“bukankah bedakmu itu sudah habis? bagaimana kau ini..” bicara Yoona yang tengah duduk di pinggir ranjangnya.

Jessica yang mendengar ucapan Yoona langsung membalikkan tubuhnya, melihat kearah Yoona. Ditepuknya dahinya sendiri cukup keras. “Kau benar.. Kenapa aku sampai lupa? aish.. Jinjja…” Dilangkahkan kakinya menuju ke tempat jaketnya tergantung, memakainya dan merapikannya.

Yoona yang melihat itu tentu saja mengerti maksud kakaknya. Ia ambil sisir rambut yang tidak jauh dari jangkauannya lalu menyisir rambutnya kilat. Setelah selesai didekati kakaknya yang telah siap dengan penampilannya.

“Akan aku temani.” bicara Yoona sambil menunjukkan senyum paksanya.

“baiklah..” diambilnya konci mobil yang berada dimeja riasnya. Yoona yang melihat itu langsung saja merampas kunci mobil itu.

“Kita jalan kaki saja. Mall itukan tidak terlalu jauh dari sini.” omel Yoona.

“Selalu saja kau yang mengaturku. Padahal aku adalah kakakmu.” gumam Jessica lirih.

.
.

Dengan langkah semangat Jessica memimpin jalan, sedangkan Yoona dibelakangnya. Ia bagaikan seorang bodyguard yang menjaga majikannya dan ditambah dengan pakaiannya yang berwarna hitam yang sedikit formal. Sesampainya diMall, dengan langkah girang Jessica berjalan masuk kedalam Mall. Langkahnya terlihat cepat dan terburu-buru. Dengan begitu Yoona juga harus menambah kecepatan laju jalannya. Sekarang langkah kakinya beriringan dengan kakaknya, Jessica.

Sesampainya di toko kosmetik, Jessica langsung memasuki toko tersebut. Dengan terpaksa Yoona ikut masuk dan lebih memilih duduk menunggu kakaknya kembali. Dilihatnya keseluruh penjuru toko tersebut. Banyak berbagai kosmetik satu merek disana, dan Yoona tidak mengetahui apa nama-nama kosmetik tersebut. Yang ia tahu hanyalah bedak dan Lipstick, hebat bukan?

Tidak butuh waktu yang lama, dilihatnya Jessica melangkahkan kakinya mendekati dirinya. Dengan sigap ia kembali berdiri yang melihat kakaknya makin mendekat.

“tumben kau hanya membeli bedak? apa tidak ingin membeli yang lain?” tanya Yoona dan dibalas gelengan kepala oleh Jessica. “baiklah.. Kajja. kita pulang.”

Dengan langkah beriringan Yoona dan Jessica berjalan keluar area Mall. Disini masih cukup ramai, tapi tidak dengan jalan di dekat apartemennya. Disana selalu sepi dan menyeramkan jika dimalam hari. Maka dari itu, tadi Jessica lebih memilih untuk naik mobil dari pada jalan kaki seperti ini.

Baru setengah perjalanan mereka berjalan, 2 orang pria berbadan besar menghalangi mereka. Jessica yang melihat itu tentu saja langsung panik, lain halnya dengan Yoona, ia santai dan hanya memandang remeh kedua pria tersebut.

“halo gadis manis.” ujar salah satu pria pertama dan mendekati Jessica. Tentu saja Jessica yang melihat itu langsung mengumpatkan dirinya dibelakang Yoona. Sesekali Jessica menggumamkan sumpah serapah untuk pria itu.

“Jangan berani-beraninya kalian menyentuh kami.” ujar Yoona santai. Digenggamnya tangan Jessica dan melewati pria yang menggoda Jessica tadi.

Dengan sigap pria yang sedari tadi diam, sekarang menghalangi jalan Yoona. Yoona tatap pria itu kesal. Tanpa ia sadari, genggamannya pada eonninya tersebut terlepas.

“YOONGIE…” terdengar teriakan dari arah belakang. Dengan cepat Yoona membalikkan badannya dan melihat kakaknya yang tengah diapit oleh pria yang menggoda Jessica tadi dan tembok.

Dengan cepat Yoona bergerak mendekati kakaknya, tapi niatnya gagal. Pria yang kedua dengan sigap menahan Yoona, mendorong Yoona hingga terjatuh duduk di tanah. Yoona mengalihkan pandangannya kearah kakaknya. Seketika matanya memanas melihat kakaknya yang tengah dicumbu oleh pria yang pertama.

“LEPASKAN EONNIKU..” geram Yoona. Yoona bangkit dari jatuhnya dan berjalan kearah kakaknya. Dengan cepat pria yang kedua menghalangi Yoona.

Dengan kekuatan tenaga dalam, Yoona memukul perut pria itu, menendang tulang kering pria itu dan menendang sangat kuat bagian vital pria kedua.

“ARGHHHH..” seketika pria kedua terjatuh duduk mengerang kuat sambil memegang daerah vitalnya.

Sekarang perhatian Yoona menuju kakaknya. Dilihatnya kakaknya yang sudah hampir telanjang dada. Dengan lari ia dekati pria pertama itu. Ditendangnya kuat pinggang penjahat itu hingga terlepaslah Jessica dari perlakuan bejat pria tadi. Dipakaikannya jaket kakaknya tadi yang tergeletak ditanah dan menatap pria pertama itu geram.

“Kurang hajar kau, dasar gadis brengsek.” Omel pria pertama tadi.

Didekatinya Yoona yang tengah menatapnya tajam. Diambilnya sebuah pisau yang terselip di balik jaket pria pertama tadi. Jessica yang melihat itu langsung saja menatap Yoona berharap Yoona tidak akan melawan penjahat tersebut. Tapi ternyata dugaannya salah, Yoona ikut maju dan mendekat kearah pria tersebut, Sedangkan ia hanya diam sambil mengontrol detak jantungnya.

“HYAA…” Teriak pria pertama tadi sambil mengacungkan pisaunya.

Dengan sigap Yoona menahan lengan penjahat itu dan berputar ke arah belakang tubuh pria pertama tadi. Dua jarinya dengan sigap mematuk bagian otot-otot yang membuat pria itu tidak bisa bergerak.

Dipatuknya kedua otot bahu pria pertama dan mematuk di bagian otot lengan penjahat itu. Seketika pisau yang dipegang penjahat itu terlepas jatuh ketanah. Dengan penuh emosi, ia menendang betis pria pertama yang membuat pria itu terjatuh. Dapat kalian pastikan, itu sangatlah sakit.

“ARGHHH…” kedua penjahat itu masih saja berteriak. Penjahat pertama hanya bisa berdiam diri kaku, dan penjahat kedua masih saja memegang daerah vitalnya yang masih terasa sakit, bahkan sangat sakit.

Dengan cepat Yoona mengeluarkan dompetnya dan mengambil sesuatu disana. Ia tunjukkan itu pada kedua penjahat itu. Seketika raut penjahat itu menjadi panik dan takut, tapi apa daya, mereka benar-benar tidak bisa bergerak sedikitpun untuk lari.

“Aku, Detektif Im Yoon Ah. Dari Departemen Daejimo.” ujar Yoona tajam yang membuat kedua pria itu makin merinding. “Dan, tamatlah kalian.” lanjut Yoona.

.
.

Dengan langkah perlahan Yoona membawa kakaknya kekamar. Dilihatnya keadaan kakaknya yang masih terlihat takut dengan tubuhnya yang masih sedikit gemetaran. Dibaringkan tubuh kakaknya diatas ranjang, dibukakannya sepatu high heels dan jaket yang masih melekat ditubuh kakaknya.

“Tidurlah..” ujar Yoona lembut, ditinggalkan kakaknya sendiri dikamar. Sebelum ia keluar, diambang pintu ia berhenti sebentar dan melihat kearah kakaknya. “Mianhae..” ujarnya pelan.

Ditutupnya pintu kamarnya itu. Perlahan Jessica membuka matanya, ia alihkan pandangannya kearah pintu kamarnya. Sebuah senyum tipis terbentuk disana, senyum tulus. Ditutupnya kembali mata indahnya itu, dan ia kembali ke alam mimpinya.

**

Di ruang tamu, suasana terasa hening, yang terdengar hanyalah bunyi detakkan jam dan hembusan nafas kasar Yoona. Dengan langkah perlahan Yoona berjalan kearah meja yang posisinya tidak jauh dari dirinya. Ia ambil sebuah kunci kecil dari kantung celananya dan membuka isi laci tersebut. Disana terdapat banyak alat yang entah apa itu namanya.

Diambilnya beberapa alat dan meletakkannya di atas meja ruang tamu. Tangannya dengan lihai menyatukan beberapa benda untuk membentuk sesuatu. Sesekali ia akan mendekatkan kepalanya ke benda tersebut saat memasangkan benda yang sangat kecil disana. Tatapannya terlihat fokus dan yakin.

5 Jam Kemudian…

Masih dengan hal yang sama, Dengan posisi yang sama Yoona masih saja memasang-masangkan setiap alat yang ia perlukan. Tidak lama dari itu, sebuah senyumpun terlihat diwajahnya menandakan apa yang ia lakukan telah selesai.

Ia letakkan kembali beberapa benda sisa didalam laci mejanya. Ia tutup laci itu dan menguncinya. Kembali ia menuju mejanya dan menatap hasil buatannya. Memang terlihat simple, tapi kegunaannya besar. Sebuah benda yang nyaris tidak terlihat, besarnya tidak sampai setengah senti, diperkirakan besar benda tersebut hanya 2 mm. Bagaimana bisa ia membuat itu? hanya Yoonalah yang tau.

Yoona masukkan hasil kerjaannya kedalam kantung plastik bening dan menutupnya rapat. Ditatapnya hasil karyanya sendiri dengan bangga dan berharap itu akan berhasil.

“Kau pintar, Im Yoon Ah.” gumamnya.

****

Dilain tempat, seorang pria yang kulit wajahnya terlihat kriput hanya menatap bingung layarnya, menatap bingung apa yang dilakukan orang dalam layar tvnya. Beberapa pertanyaan berputar-putar diatas kepalanya.

“Apa yang ia buat? kenapa itu tidak terlihat?” gumam pria tua itu lirih.

Tidak lama kemudian, masuk seorang pria yang diyakini umurnya masih sekitar 20 tahunan, membawa 2 gelas berisi coklat hangat. “Ada apa Ajhussi?” tanya pria muda itu yang heran melihat raut wajah orang yang ia panggil paman itu.

“Aku bingung, apa yang gadis itu buat sedari tadi? hasil buatannya tidak terlihat sama sekali.” bicara pria tua itu sambil memandang Pria yang lebih muda itu.

“Kita lihat saja nanti.” balas pria muda itu sambil memberi satu gelas yang ada ditangannya kepada pria tua yang ada disampingnya. Pria tua itu menerima pemberian.

“Aku tidak sabar dengan permainan selanjutnya.” ujar Pria tua itu yang hanya dibalas anggukan mantap pria muda tadi.

****

Tok.. Tok.. Tok..

Diketuknya sebuah pintu kamar dengan nomor 36. Berkali-kali ia memencet bell tersebut dan mengetuk pintu tersebut. Tidak lama kemudian, keluar seorang pria dengan rambutnya yang terlihat berantakan dan matanya yang terlihat berat. Seketika pria itu memelototkan matanya saat melihat tamunya. Dengan gerak cepat ia rapikan rambutnya dan merubah raut wajah kantuknya.

“Oh.. Yoong… Ada apa?” tanya pria itu, dia adalah Kyuhyun.

Yoona yang mendengar itu memperlihatkan senyumnya pada Kyuhyun. Pria itu hanya terbengong atas melihat keajaiban didepannya. Yoona tersenyum pada Kyuhyun? ini adalah suatu keajaiban.

“ah.. Cantik..” gumam Kyuhyun tidak sadar. Yoona yang mendengar itu spontan saja langsung memelototkan matanya kaget. Sedangkan Kyuhyun yang sadar akan tingkah bodohnya langsung saja menutup rapat mulutnya. “Maaf..” ujar Kyuhyun.

“Tidak apa-apa..” bicara Yoona. “Kyu, apa besok kau ada jadwal Kuliah?” tanya Yoona.

“tidak. Kenapa?” tanya Kyuhyun. Wajahnya terlihat berseri-seri atas pertanyaan Yoona tadi.

“bisakah kau menjaga kakakku hingga aku pulang nanti?” tanya Yoona yang membuat Kyuhyun langsung memelototkan matanya tidak percaya.

“Apa?” kaget Kyuhyun.

“Jika kau tidak mau, juga tidak apa-apa.” bicara Yoona lagi.

“Ah.. tidak.. aku tentu saja mau..” ucap Kyuhyun dengan diakhiri sebuah senyum mautnya.

“baiklah. Terimakasih.” bicara Yoona. Ia tundukkan sedikit tubuhnya memberi hormat pada Kyuhyun lalu berjalan menuju pintu apartemennya.

Masih ditempat yang sama, Kyuhyun menatap Yoona hingga gadis itu benar-benar hilang masuk kedalam apartemennya. Sebuah senyum senang terbentuk disana. “Ini adalah kesempatan, Cho Kyuhyun.” gumam pria itu senang. Kembali ia memasuki apartemennya dan menutup pintunya.

.
.

To Be Continue…

bagaimana? bagus gk? makin penasaran gk? ayooooo… siapa penjahannya…? >..< hehe… Terus simak ceritanya yah…. Waiting for next part… -.-(bnr gk tu bhs inggrisnye? hehe)

Iklan

6 pemikiran pada “Mystery In Tragedy (Part 3)

  1. Annyeong author’-‘
    saya readers baru’-‘
    salam kenal’-‘
    ditunggu next chap. nya’-‘

  2. annyeong aku readers baru,
    ffnya keren pke bgt
    pnsaran ama cwo yang sama ahjussi tu..
    ok..next update cpatan ya..:-D

  3. Penasaran ama cowo misteriuss itu ,, kalau di tebak2 sic ,, itu donghae ,, hehe ,,
    mudah-mudahan dia itu donghae amin ,, biar ada yoonhae couple
    hehehe mian cingu ,,

    • hahaha… lihat aja nanti say… eum… komen kamu bikin aku memiliki semangat buat lanjutin story ini.. tp gk janji juga bakal dilanjutin.. hehe… >.< Thanks buat komennya yahhh… 😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s