Mystery In Tragedy (Part 4)

image

Author : viesayoonaddict
Tittle : MIT (Part 4)
Type : Chapter
Genre : Action, Mystery, Tragedy, Other.
Rating : PG-13
Main Cast : Im Yoon Ah
Other Cast : (Cari sendiri)

Note : Sebelumnya sudah pernah di post di Wattpad salsabilla_zurid dengan cast yang berbeda.

Annyeong haseyo… nae comeback bawa kelanjutan MIT nih.. mianhae lama gk comeback.. sibuk belajar buat UN… mungkin beberapa hari kedepan sampai UN selesai gk bakal comeback dl.. sibuj belajar.. hehe… do’a-in yah… ^^ Oh ya.. kalau ada salah-salah ketik dimaapin yah..

Budayakan komen.. jangan cuma comment “lanjuttt…” kadang bikin gereget >.< commentlah sesuai jalan cerita di part ini…

~Mystery In Tragedy~

Tok Tok Tok..

Diketuknya keras sebuah pintu besar yang dipastikan menimbulkan bunyi yang cukup keras. Beberapa kali gadis itu mengetuk pintu tersebut hingga akhirnya pintu tersebut terbuka, memunculkan sosok Key dibaliknya.

Dengan air muka yang sedikit kesal, Yoona memasuki rumah Key dengan sedikit kasar menabrak bahu kiri Key yang menimbulkan bunyi beradunya bahu mereka. Key yang merasakan itu hanya bisa mengaduh sakit dan diakhiri dengan cengiran ringan khasnya.

“Kau itu lambat sekali membukakan pintu.” Ujar Yoona sedikit ketus sambil menduduki sofa ruang tamu Key untuk menghilangkan rasa lelah yang melanda dirinya.

“Aku itu baru saja selesai mandi. Kau datang terlalu pagi. Bahkan aku saja belum memasak sesuatu untuk dimakan.” jawab Key sambil melangkahkan kakinya kearah dapur yang posisinya tidak terlalu jauh dari ruang tamu.

Yoona hanya diam, tidak menanggapi ucapan Key barusan. Ia rebahkan tubuhnya diatas sofa besar Key. Dipejamkan matanya agar menghilangkan sedikit rasa kantuk yang melanda dirinya. Dihari ini ia meninggalkan kakaknya, Jessica sendiri diapartemennya, lebih tepatnya ditemani oleh Kyuhyun yang sebelumnya sudah ia mintai untuk menemani kakaknya selama belum berangkat ke Osaka.

Kini ia berada dirumah Key, beberapa hari kedepan mungkin ia akan menginap dirumah temannya tersebut untuk lebih mudah menyelesaikan masalah yang sudah lama melanda negara Sakura tersebut.

Lama ia memposisikan dirinya seperti itu hingga akhirnya ia benar-benar tertidur. Dengan posisi tangan kirinya yang menutupi sebagian wajahnya, hal itu tidak mengurangi sedikitpun kecantikan yang ada pada wajah gadis tersebut.

“YOONA.. SARAPAN SUDAH SIAP..” teriak Key dari arah dapur. Hening. Tak ada sahutan dari orang yang ia panggil Yuna tersebut.

Sambil membawa piring sarapan dirinya dan Yoona, ia langkahkan kakinya secara perlahan dan santai, tidak terkesan kaku dan arogan.

Tepat saat ia sampai di ruang tamu, ia hanya bisa mendesah kesal saat melihat Yoona yang tertidur dengan nyenyaknya disofanya. Ia taruh dengan perlahan piring sarapan dirinya dan Yoona kemudian menghampiri Yoona yang masih tertidur pulas.

Kini pandangannya beralih pada jam dinding dirumahnya. Jam 6 pagi. Ia tidak yakin jika diapartemen Yoona, gadis itu tertidur dengan tenang.

“Aish.. kau ini.. kebiasaan..” gumam Key pelan.

Perlahan ia angkat tubuh ramping Yoona menuju kamar tamu yang berada di lantai dua. Terlihat dengan mudahnya ia mengangkat tubuh Yoona tanpa beban sedikitpun. Tepat saat ia telah sampai di depan pintu kamar tamu, ia sedikit berdecak kesal.Bagaimana tidak? pintu itu tertutup rapat sedangkan dirinya sedang membopong tubuh Yoona dan dipastikan hal itu akan sangat sulit baginya untuk membuka pintu kamar tamu.

Ia rapatkan tubuh Yoona padanya, kepala gadis itu ia biarkan berada tepat diatas bahunya. Dengan tangan kanannya yang melingkar di pinggangnya untuk menahan beban berat tubuh Yoona. Ini memang sedikit sulit, tapi cara itu cukup berhasil untuk membuka pintu kamar tamu tersebut.

Kembali ia mengangkat tubuh Yoona dengan tangannya yang bertumpu di dua sudut tubuh Yoona. Dibaringkan tubuh gadis itu diatas ranjang big sizenya. Dialaskan tubuh Yoona dengan selimut putih yang sudah tersedia disana.

“Padahal aku hanya mengangkut tubuhmu untuk ke kamar ini, tapi mengapa aku sampai berkeringat seperti ini?” ujar Key kesal karena merasa lelah dan gerah ditubuhnya.

Ia langkahkan kakinya berjalan untuk keluar dari kamar tamu yang sekarang telah ditempati oleh Yoona. Ditutupnya pintu kamar itu secara perlahan agar tidak menimbulkan bunyi pintu tertutup yang kemungkinan besar dapat membangunkan Yoona dari tidurnya.

~~~~

“YAK!! Kenapa kau bisa berada di dalam apartemenku? dimana Yoona?” ujar Jessica saat menemukan Kyuhyun yang dengan asiknya menonton acara televisi yang sedang disiarkan. Sedangkan orang yang dipanggil hanya diam dan masih saja fokus kearah siaran televisi yang sedang ia tonton.

“Aish..” ringis Jessica. Diambilnya bantal sofa yang berada tidak jauh dari keberadaannya dan melemparnya kearah kepala Kyuhyun.

Buk..

“Ya.. Ani (Kakak).. Apa yang kau lakukan?” Ditatapnya Jessica kesal. Jessica hanya bisa menarik dan membuang nafas kesal karena merasa pertanyaannya yang sebelumnya tidak ditanggapi oleh Kyuhyun.

“Kau sedari tadi mengacuhkanku, Aku bertanya.. Yoona dimana?” Ujar Jessica mengulangi pertanyaannya tadi. Ia duduki bangku sofa tepat di sebelah kiri Kyuhyun.

“Oh.. Dia katanya akan menginap di rumah Key untuk beberapa hari kedepan. Dan aku disuruh olehnya untuk menjagamu disini.. Kebetulan juga hari ini aku tidak ada jadwal kuliah.” Bicara Kyuhyun tanpa mengalihkan pandangannya dari arah televisi.

Jessica yang mendengar itu hanya mengangguk-angguk kecilkan kepalanya. Dipandangnya Kyuhyun dari samping kemudian ia sunggingkan senyum tipis dibibirnya. “Apa kau sudah sarapan?” tanya Jessica dan tentu saja pertanyaan itu mengundang Kyuhyun untuk menatapnya.

Michiron, shinai. (tentu saja, belum)

“Baiklah.. akan aku buatkan sarapan terlebih dahulu..” Jessica bangkit dari posisi duduknya. Dilangkahkan kakinya menuju kearah dapur. “KAU MAU SARAPAN APA?” teriak Jessica dari arah dapur.

“TERSERAH ANI SAJA..!” balas Kyuhyun teriak.

Dengan telaten Jessica membuat sarpan untuk dirinya dan tentunya untuk si Kyuhyun. Bukan makanan berat yang ia buat, Ia hanya membuat roti bakar dengan isi susu kental putih, keju dan taburan meses coklat yang cukup untuk mengisi kekosongan perut mereka.

~~~~

Perlahan dibuka matanya untuk menyesuaikan cahaya yang masuk kematanya, Yoona kerjapkan matanya beberapa kali. Yang pertama kali ia lihat adalah langit-langit ruangan yang sedang ia tempati. Perlahan ia bangkit dari posisi tidurnya, merubah posisi tidurnya menjadi posisi duduk. Ia alihkan pandangannya kearah jendela kamar yang berada sekitar 1 meter sebelah kanan dari jarak tempatnya terduduk.

Dengan gerak sedikit cepat ia bangkit dari posisi duduknya berjalan kearah kamar mandi yang berada dikamar tamu tersebut untuk mencuci mukanya. Setelah selesai ia ambil jaket hitam yang berserakan di tempat tidurnya. Tidak lupa ia mengambil dompet dan handphone yang ia letakkan di kopernya. Dan tidak lupa juga benda yang paling berharga baginya, pistol peredam suara.

Ia langkahkan kakinya keluar dari kamar tamu tersebut dan menuruni anak tangga melayang rumah tersebut. Sekilas, Yoona dapat melihat dari arah dapur terlihat seseorang berjalan cepat menuju ruang belakang dapur. Yoona yang melihat itu mengerutkan dahinya heran. Dilihat dari postur tubuhnya, diyakini itu bukanlah sosok Key.

Dengan gerakan cepat dan tidak menimbulkan bunyi langkah kaki, Yoona dekati arah dapur yang tidak terlalu jauh dari posisinya berada. Tangannya telah memegang pistol yang sudah ia siapkan sejak sebelum ia berangkat ke kediamam Key ini.

“siapa kau?” ujar Yoona saat sampai di dapur Key. Ia acungkan pistolnya ke depan.

Ia lihat keadaan dapur. Bersih dan tidak ada siapapun. Dengan gerakan perlahan dengan tangannya yang masih mengacungkan pistol ia langkahkan kakinya mendekati pintu belakang rumah Key. Ia putar kenop pintu itu perlahan lalu membukanya paksa yang mengakibatkan bunyi yang cukup keras terjadi.

Dapat Yoona lihat, seorang pria berpostur tubuh tinggi yang tadinya membelakangi Yoona mengubah posisinya menjadi menghadap Yoona. Dapat pria itu lihat, Yoona memegang pistol dengan mata yang dipelototkan, sama dengan dirinya. Ia lebarkan matanya, menunjuk ekspresi keterkejutannya.

“Yoona.. Apa yang kau lakukan? kau ingin membunuhku?”  tanya Key yang masih terlihat takut-takut karena Yoona masih mengacungkan pistolnya ke hadapannya.

Yoona yang menyadari itu, perlahan menurunkan pistolnya kemudian memasukkannya ke dalam jaket hitamnya. Dilihatnya Key dengan air muka kesalnya. “Sepertinya aku salah melihat.” ujar Yoona kemudian menduduki kursi kecil yang berada tepat di sebelah kirinya. “Saat aku menuruni anak tangga, aku seperti melihat sosok pria sedikit lebih pendek darimu dan berperut buncit.” Dengus Yoona kesal saat melihat khayalannya yang kelewat nyata.

“Kau ini kenapa?” Kay dekati Yoona lalu memegang dahi Yoona menggunakan punggung tangannya. Tidak panas.

Yoona yang diperlakukan seperti itu oleh Key menepis tangan pria itu kasar. Apa ia terlihat seperti orang yang sedang sakit?

“Aish.. Kau ini sebenarnya pria atau wanita? tenagamu kuat sekali..” Bicara Key kesal sambil mengibas-ngibaskan tangannya yang terasa sakit karena pukulan dan Yoona. Dikerjapkan mata Key beberapa kali. Yah.. seperti itulah Key jika merasakan sakit disalah satu anggota tubuhnya. Itu memang aneh, tapi fakta.

“Oh ya, Yoong.. Pagi ini ada berita terbaru.” Ujar Key sambil mengeluarkan Hanphone touchscreennya. Ia buka halaman berita yang semalam ia dapat dari internet lalu menunjukkannya pada Yoona.

Yoona gapai handphone Key lalu membaca tiap kata yang tertulis dihalaman tersebut. Sesekali Yoona akan mengerutkan dahinya, atau juga menggelengkan kepalanya heran membaca isi berita tersebut. Key yang masih berdiri tepat dihadapan Yoona hanya bisa mengerjapkan matanya beberapa kali.

“Aish.. I can crazy because this case..” gumam Yoona kesal. Ia genggam kuat handphone Key lalu menaruhnya dengan kasar di meja kecil yang berbentuk bulat tepat di sebelah kirinya. Key yang melihat itu memelototkan matanya menunjukkan ekspresi keterkejutannya.

“YAK!! Apa yang kau lakukan?” Key ambil handphonenya yang tergeletak mengenaskan di atas meja. Ia tatap Yoona sengit seolah-olah handphonenya itu lebih berharga dari pada nyawanya.

Detik berikutnya tidak ada yang memulai percakapan, hening dan sunyi. Entah apa yang mereka pikirkan saat itu. Pandangan Yoona lurus menatap bunga-bunga bermekaran yang sangat ia ketahui bahwa Keylah yang merawat bunga itu dengan sangat baik dan telaten. Sedangkan Key yang saat ini berdiri di samping kanan Yoona menatap wajah gadis itu dengan senyum tipis yang ia sunggingkan di bibir manisnya. Yoona sadar akan tatapan Key tersebut, tetapi ia lebih memilih diam dan bungkam, dan masih saja terus menatap bunga-bunga tersebut.

Tiba-tiba saja sekelebat bayangan terlintas dipikirannya. Ia tahu bayangan itu, sangat tahu bahkan sangat hafal dengan bayangannya. Masalalunya, masalalu yang sangat amat ia benci dan menurutnya amatlah memuakkan. Mungkin saja jika masalalunya itu tidak terjadi, ia tidak akan seperti ini, tidak ingin menjadi seorang detektif yang selalu ingin tahu dan memecahkan masalahnya dan orang lain. Ingin sekali ia kembali memutar waktu dan merubah semua kejadian itu sebelum terlambat. Ia sadar, itu tidak mungkin terjadi, sangat tidak mungkin. Ia murka dengan kejadian itu, ia benci dengan kejadian itu, ia kesal dengan kejadian itu, ia lelah dengan dirinya sendiri. Yap, hanya karena masalalunya ia lebih memilih provesi seperti sekarang, menjadi seorang detektif yang dapat mengungkapkan masalah orang lain dan dapat menyibukkan diri berusaha melupakan masalalunya. Ia pikir cara itu akan evektif, ternyata tidak.. hingga saat ini masalalu itu masih saja tersangkut dimemorinya.

“Key.. aku ingin kekantormu.” Bicara Yoona datar tanpa mengalihkan pandangannya yang masih saja fokus menatap bunga-bunga.

Ok.. tapi, apa kau tidak ingin sarapan terlebih dahulu? biar aku panaskan sarapanmu yang tadi pagi.” Key langkahkan kakinya beranjak meninggalkan Yoona. Dengan gerak cepat Yoona menahan Key dengan memegang pergelangan tangan pria tersebut.

Watashi wa kūfukude wa nai yo (Aku tidak lapar)” ujar Yoona yakin. Perlahan ia bangkit dari posisi duduknya dan berjalan mendahului Key. “Yuiitsu no chokusetsu ofisu (Langsung ke kantor saja)” lanjut Yoona kemudian meninggalkan Key sendiri dibelakang yang masih saja terdiam dengan tingkah laku aneh Yoona.

Key angkat bahunya tidak perduli kemudian menyusul Yoona yang sudah terlebih dahulu jalan meninggalkannya.

~~~~

Suasana hening dan canggung sangat terlihat jelas diantara kedua insang berbeda jenis tersebut. Jessica dengan tangannya yang ia gunakan sebagai penopang dagu dan dahi yang ia kerutkan sangat terlihat jelas raut wajah bosannya. Jika ia disuruh memilih antara diam dirumah atau bekerja, dipastikan ia akan memilih bekerja.

Jessica melihat kearah sampingnya, Kyuhyun masih dengan asiknya duduk disofa sambil menikmati acara televisi berita tentang sport yang pastinya itu sangatlah digemari oleh kalangan laki-laki.

Dengan gerakan sedikit terburu-buru Jessica bangkit dari duduknya dan berjalan kearah kamar, tentu saja gerakan mendadak yang ia ciptakan itu membuat Kyuhyun menengok kearahnya dan arah matanya mengikuti tiap gerak yang Jessica perbuat.

Kembali Kyuhyun menonton televisi dan kembali menghiraukan suasana sepi yang menyelimuti dirinya. Sesekali ia akan berdecak kesal saat melihat berita pertandingan bola tentang club favoritnya yang kejebolan goal oleh lawan mainnya.

Cklek..

Terdengar suara pintu yang terbuka dan kembali tertutup. Kyuhyun yang mengetahui itu adalah Jessica hanya cuek dan masih saja fokus menonton acara televisinya. Tepat saat Jessica berjalan melewati ruang tamu, barulah ia sadar bahwa penampilan Jessica berbeda dari yang sebelumnya. Jessica terlihat lebih rapi dan anggun tidak seperti penampilannya yang sebelumnya.

Ani ingin kemana?” Kyuhyun bangkin dari posisi duduknya lalu mendekati Jessica yang sedang mengobrak-abrik tasnya kemudian menutupnya dengan resleting tasnya.

“oh? Aku bosan disini.. Kau sibuk dengan duniamu dan aku dibiarkan termenung sendiri layaknya aku tinggal sendiri diapartemen ini.” Kesal Jessica. Ia langkahkan kakinya mendekati pintu apartemennya dan memutar kenop pintu.

“Ah.. baiklah.. Aku ikut dengamu.” Dengan terburu-buru Kyuhyun berjalan memasuki apartemen Jessica lalu mengambil jaket kulitnya dan kunci motornya.

“Buat apa kau ikut?” bicara Jessica sebal sambil mengibaskan rambutnya sekali kearah kanan.

“Sudahlah..” Dengan cara sepihak, Kyuhyun menarik pergelangan tangan Jessica keluar dari apartemennya kemudian menutup pintu apartemen tersebut yang otomatis pintunya akan terkunci dengan sendirinya.

“Yak!! Aku belum mengambil kunci mobilku yang aku letakkan di meja ruang tamu.”

“Sudahlah.. Kita naik motorku saja, Ya?” tanpa menunggu jawaban dari mulut Jessica, Kyuhyun menarik tangan Jessica tanpa melihat bagaimana ekspresi yang terdapat di wajah Jessica.

Gadis itu sedikit mengangakkan mulutnya menatap punggung lebar Kyuhyun tidak yakin. Pantas saja adiknya, Yoona sangat tidak menyukai pria yang menariknya saat ini. Ternyata Kyuhyun adalah type pria yang semaunya, tapi ia akan tunduk jika berhadapan dengan orang yang ia cintai contohnya seperti terhadap Yoona.

Saat mereka tiba di lobi apartemen, beberapa orang yang mereka lewati menatap Jessica dan Kyuhyun tidak yakin. Bagaimana tidak? Sosok Kyuhyun yang dikenal suka sekali mengejar Yoona, bahkan saat dihari ini Yoona tidak ada ia beralih ke kakak dari Yoona yaitu Jessica. Tentu saja orang-orang akan menatap curiga diantara mereka berdua.

Jessica yang merasa diperhatikan hanya bisa menundukkan kepalanya malu sedangkan Kyuhyun dengan cueknya masih saja menarik tangan Jessica menuju kearah tempat motornya terparkir.

“Kita ingin kemana..?” Kyuhyun berikan satu helm yang ia miliki ke arah Jessica. Dengan setengah hati Jessica menerimanya lalu memasangnya.

“I don’t know.. aku tidak memiliki tujuan.. Asal aku bisa menghilangkan rasa bosanku saja, itu sudah lebih dari cukup.”

ok.. bagaimana kalau kita ketaman hiburan?” Dinaiki motornya dan menyalkan mesin motornya.

Jessica yang mendengar ucapan Kyuhyun barusan hanya ditanggapi dengan keterkejutannya. Taman hiburan? Hei!! bukankah itu lebih pantas hanya untuk keluarga yang memiliki anak kecil? Apakah dirinya ini seperti anak kecil?

“Taman hiburan? Oh.. tidak.. Aku ingin ke Mall..” Dinaikinya motor besar Kyuhyun dan memegang erat bahu Kyuhyun agar dirinya tidak terjatuh.

“Aku tidak peduli.. Aku hanya ingin ke taman hiburan.” Bicara Kyuhyun kemudian langsung tancap gas. Jessica kembali terdiam dengan ucapan Kyuhyun barusan. Mungkin jika saja Yoona berada disampingnya, maka si Kyuhyun ini akan habis dihajar oleh Yoona karena bertingkah semaunya terhadap dirinya.

Dihelakan nafasnya berat. Jika dipikir-pikir, makin ia melawan makin menjadi sikap semaunya Kyuhyun terhadap dirinya. Ingin Jessica rasanya memakan orang yang berada didepannya ini, tapi mana mungkin ia memakan manusia. Tiba-tiba saja terlintas wajah Bosnya yang tampan, sebuah senyum tipis ia ciptakan dibibir manisnya. Bayang-bayang dirinya dan Bosnya di Osaka sudah terlewat tinggi dan terlalu berkhayal. Ia tepis bayangnya tersebut diiringi senyum mirisnya.

~Mystery in Tragedy~

Kini Yoona bersama dengan Key telah sampai di gedung kantor tempat Key bekerja. Mereka masuki gedung tersebut dengan langkah sedikit terburu-buru. Beberapa orang yang mereka lewati memberi salam hormat kepada kedua insang tersebut yang hanya ditanggapi senyum tipis oleh Key, berbanding terbalik dengan sikap Yoona yang hanya cuek dengan tatapan datarnya yang memandang lurus tanpa titik tujuan penglihatannya. Key yang sudah terbiasa oleh sifat Yoona hanya bisa memandang gadis tersebut sebal. Ia seolah-olah tidak peduli terhadap pegawainya, Key saja yang berprofesi sebagai Direktur di perusahaan tersebut masih menebar senyumnya kepada para pegawainya sebagai rasa sopan santunnya terhadap orang lain.

Mereka masuki lift khusus untuk Key. Suasana hening tercipta diantara mereka, hanya terdengar bunyi dentingan saat lift menaiki setiap lantai gedung. Pandangan Yoona terarah pada angka yang terus berubah selama lift masih berjalan.

“Lalu apa rencanamu selanjutnya?” bicara Key tiba-tiba, memecahkah keheningan antara mereka berdua.

“Kita bicarakan diruanganmu saja.” Jawab Yoona singkat dan padat. Tepat saat pintu lift terbuka, Yoona terlebih dahulu keluar dari pintu lift diikuti oleh Key dibelakangnya.

Langkah Key terhenti didepan meja kerja sekertarisnya yang berdiri dan menunduk hormat padanya, sedangkan Yoona telah terlebih dahulu memasuki ruangan Key dan membanting pintu tersebut cukup keras. Sekertaris Key, Kwon Yuri biasa dipanggil dengan sebutan ‘Yul’ sudah terbiasa dengan sifat Yoona yang terlihat dingin dan arogan. Yul pandang Direkturnya tersebut dengan pandangan bingung.

“Jika nanti ada seseorang yang menemuiku, bilang saja saat ini aku tidak bisa ditemui. Dan kau, jangan masuk keruangannya sebelum aku memerintahkanmu untuk memasuki ruanganku!! Rikai dekimasu ka? (Apa kau mengerti?)”  Bicara Key santai tetapi terdengar dari perkataanya terdapat penekanan yang tegas terhadap diri Yul.

Ok, Direkūta (Baiklah, direktur)” Ujar Yul sopan.

Di pandanginya direkturnya tersebut yang melangkahkan kakinya memasuki ruangannya. Yul hanya memandang kesal punggung direkturnya tersebut diiringi dengan suara pintu yang tertutup. Jika sudah seperti ini, dipastikan Key dan Yoona akan sangat lama keluar dari dalam ruangan tersebut karena perbincangan mereka yang tidak ada habisnya. Ditambah lagi dua jam dari sekarang akan ada jam meeting antara perusahaan tempatnya bekerja dengan perusahaan Hyundai dari negara Korea. Kalau sudah seperti ini, ia dipastikan harus mengatur ulang jadwal pertemuan direkturnya tersebut dengan perusahaan Hyundai.

~~~~

Yoona duduki sofa besar yang terdapat diruangan tersebut. Tidak lupa sebatang rokok yang ia simpan dibalik jaketnya ia ambil dan menyalakannya dengan korek. Kepulan asap memenuhi ruangan tersebut, dipastikan siapapun yang memasuki ruangan tersebut akan terbatuk-batuk menghirup asap rokok yang memuakkan tersebut.

Tidak lama setelah itu, masuklah Key dan duduk tepat disebelahnya. Yoona yang menyadari kehadiran Key langsung mengeluarkan Tab yang sedari tadi ia umapatkan didalam jaketnya. Jaketnya tersebut memang lengkap, didalam jaket tersebut sudah disiapkan banyak kantung mulai dari yang terkecil hingga yang terbesar. Mempermudah Yoona menyimpan harta berharganya dari balik jaketnya tersebut.

Dibukanya sebuah dokumen yang sudah ia persiapkan semalaman sebelum ia tinggal di kediaman keluarga Key. Sedikit senyum tipis ia sunggingkan.

“Key.. Kau baca ini..” Bicara Yoona sambil menyerahkan Tabnya kearah Key.

Dengan tenang, Key menerima Tab milik Yoona tersebut. Ia kerutkan dahinya saat melihat tulisan paling atas dan tebal yang bertuliskan “Choi Siwon”.

Ia geser layar tersebut kebawah dan terus kebawah hingga ia selesai membaca tulisan hitam yang tertulis di dokumen tersebut. Dapat ia lihat foto seorang pria di atas bagian tengah, dibawah tulisan tebal Choi Siwon. Cukup tampan. Dapat ia simpulkan saat ia membaca tulisan hitam yang tertera di dokumen tersebut bahwa Yoona untuk memecahkan masalah ini akan dibantu oleh seorang pria yang bernama Choi Siwon tersebut. Pria itu juga satu profesi dengan dirinya, ditambah lagi ia satu perusahaan dengan pria tersebut. Hal itu lebih mempermudah Yoona berbincang membahas permasalahan yang terjadi dijepang tersebut.

Selama seumur hidup Key, ia belum pernah sekalipun diajak oleh Yoona untuk memasuki gedung tempatnya bekerja tersebut. Gedung itu memang mendapat penjagaan yang ketat, bahkan dirinya sendiri sebagai teman Yoona tidak diperbolehkan memasuki gedung tersebut. Benar-benar super ketat.

“Apa dia akan membantumu nantinya?” tanya Key yang memang sudah mengerti isi dari dokumen tersebut.

“Dilihat dari kemampuannya, fisik dan otaknya, sepertinya ia cukup bagus untuk diajak kerjasama. Walau ia bisa terbilang baru menjadi anggota inti di perusahaan Daejimon, tapi aku tidak dapat meragukan ke ahliaannya. Dia juga belum terlalu dikenal oleh publik, untuk suatu penyamaran, sepertinya ia bisa dihandalkan bukan?” bicara Yoona panjang lebar. Key hanya bisa memandang binar Yoona.

“Bisakah kau besok pertemukan aku dan Siwon? aku sangat penasaran dengan dirinya.” bicara Key antusias dan dibalas anggukan ringan oleh Yoona.

~~~~

Dibalik itu semua, seorang pria tersenyum sinis menatap layar komputernya yang menampakkan dua insang berbeda jenis itu yang sepertinya akan kembali menyusun rencana baru. Mereka tidak sejenius dirinya, bahkan dirinya lebih mengenal mereka. Dengan bodohnya mereka tidak menyadari bahwa ada seorang lagi yang dari kejauhan memperhatikan mereka dengan sebuah kamera yang terbilang sangat kecil yang dipasangkan di setiap tempat yang sering mereka kunjungi.

Kamera kecil itu akan mengirim lewat bluetooth semua rekaman yang terjadi dihari itu. Pria itu tersenyum puas kemudian kembali berdecak sebal saat melihat senyum cerah yang terpancar dikedua bibir mereka.

~Mystery In Tragedy~

Dipandanginya seorang pria yang kini tengah berdiri tepat dihadapannya. Dia jadikan tangan kanannya sebagai penumpu dagu. Dinaikkan sebelah alisnya saat melihat raut datar dari pria yang berdiri dihadapannya, ditambah lagi seorang gadis yang berdiri disampingnya dengan tangan yang dilipat di muka dada dan sama seperti pria itu, gadis itu menunjukkan wajah flatnya yang menambah kesan tersendiri saat melihat mereka berdua.

“Choi Siwon? Pria berdarah Jepang dan Inggris.. perpaduan yang sempurna.” Bicara Key asal lalu menduduki bokongnya tepat di sofa sebelah kirinya.

Yoona dan Siwon yang mendengar itu hanya menunjukkan ekspresi datar mereka dan ikut duduk tepat di sebelah kanan Key dengan Yoona sebagai pemisah duduk mereka.

Choi Siwon, lebih sering dipanggil Siwon atau juga Won. Pria berdarah Jepang dan Inggris ini memiliki postur tubuh yang lebih tinggi dan gagah jika dibandingkan dengan Key. Dengan mata jernihnya yang berwarna hitam pekat, terlihat sangat tajam dan indah. Diiringi dengan bulu mata yang lentik dan alis yang tebal, menambah pesonanya yang mendalam. Dengan rahangnya yang terlihat keras dan dewasa menambah kesan sexy diwajah tampannya.

“Sudah berapa lama kau bergabung dengan Organisasi perusahaan Daejimon? Apa yang membuatmu tertarik dan apa visi dan misimu?” tanya Key penasaran sambil memandang Siwon penuh tanya.

“Apa urusannya itu semua denganmu?” Tepat sasaran!! Ucapan Siwon barusan terlihat jelas mampu membuat Key terdiam sebal sambil menatap Siwon yang dengan masih mempertahankan wajah datarnya dan sikap santainya.

Yoona yang menyadari itu hanya bisa menahan tawa. Belum pernah satupun orang yang Key tanyakan menjawabnya dengan pertanyaan juga yang cukup tajam. Yoona pandangi kedua pria yang duduk di kedua sisinya lalu menghelakan hafasnya berat.

Ok, Siwon. Kita ke perusahaan.” Yoona bangkit dari posisi duduknya diikuti oleh Siwon dan Key yang menatap mereka heran.

“Ada apa?” tanya Key ragu. Dipandanginya Yoona heran.

“Tidak ada urusannya denganmu.”

“Hei!! Aku tidak bertanya dengan mu..!!” Key acungkan tangannya menunjuk Siwon sebal. Siwon yang diperlakukan seperti itu oleh Key hanya memiringkan sedikit kepalanya dan menaikkan sebelah alisnya tidak peduli.

~Mystery In Tragedy~

Yoona kendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Disampingnya, Siwon hanya menatap lurus kedepan dan masih mempertahankan raut wajah datarnya, sama persis seperti Yoona. Terjadi suasana hening yang menyelimutin mereka berdua. Tidak ada percakapan ataupun terdengar suara radio dan musik yang memenuhi ruang dalam mobil tersebut.

Sesampainya mereka di depan gerbang gedung perusahaan Daejimon, mereka disambut hormat oleh lima orang penjaga yang berdiri tepat di depan gerbang. Empat orang penjaga memeriksa isi yang ada didalam mobil tersebut dan satu orang lagi memeriksa kartu nama Siwon dan Yoona yang ia tempelkan ke sebuah alat berbentuk kotak berwarna hitam yang langsung terbentuk gambar checklist besar berwarna hijau membuktikan bahwa mereka adalah salah satu agen di perusahaan tersebut.

Yoona berikan kunci mobilnya kepada salah satu penjaga yang memeriksa mobilnya tadi dan melangkahkan kakinya lebar memasuki gedung tersebut diikuti oleh Siwon dibelakangnya. Yoona hentikan langkah kakinya tepat di depan meja sekertarisnya. Minho, ia berdiri dari duduknya dan memberi hormat pada Yoona dan Siwon yang berdiri tepat didepan mejanya.

“Tolong beri tahu pada seluruh Staff, aku ingin mengadakan rapat. Secepatnya!!” perintah Yoona tegas dan dibalas anggukkan oleh Minho.

Siwon yang berdiri disamping Yoona hanya bisa menaikkan alisnya bingung. Rapat? Rapat mendadak?

####

“Aish.. kenapa gadis itu harus pergi keperusahaannya? Aku tidak bisa mengamatinya dari kamera pengintai” Kesal pria tua itu. Disampingnya berdiri seorang pria muda yang juga ikut menganggukkan kepalanya setuju. “Sampai sekarang aku belum bisa menemukan ide untuk menyusuk masuk kedalam perusahaan itu tanpa ketahuan oleh satu orangpun.” Gumam pria tua itu lagi.

Pria muda yang duduk disampingnya hanya bisa menggertakkan giginya kesal. Bagaimana ia bisa mengamati gadis itu jika ia berada di kandangnya sendiri? Ia juga bingung, bagaimana caranya agar ia bisa menyusuk masuk tanpa dicurigai oleh orang lain?

“Bagaimana jikalau kita memakai orang dalam, kita jadikan dia salah satu agen di perusahaan tersebut?”  bicara pria tua itu senang. Ia pandangi pria muda yang duduk disampingnya berharap pria muda itu menyetujui idenya.

“Tidak semudah itu.. Apa kau lupa, Dulu pernah salah satu perusahaan yang bersaing dengan perusahaan Daejimon juga pernah menggunakan orang dalam dan ternyata orang dalam itu langsung diketahui menyusuk masuk untuk berniat buruk pada perusahaan Daejimon tersebut. Perusahaan tersebut tidak mudah dipatahkan secara logika yang kita pikir secara langsung tanpa matang-matang. Jika kita ketahuan, aku tidak bisa membalas dendam pada dirinya.” bicara pria muda itu geram. Ia remas kedua tangannya menahan amarah yang sudah memuncak dan ingin meledak berapi-api.

Anata wa tadashī.. (Kau benar..)” balas pria tua itu diiringi anggukan kecil, mengiyakan ucapan pria muda tersebut. “Lalu, apa rencanamu?” lanjut pria tua itu lagi dan memandang pria muda tersebut seksama.

“Aku juga belum tahu itu..”

~Mystery in Tragedy~

Yoona sebagai ketua pimpinan rapat, ia pandangi satu per satu staff dan agennya yang saat ini juga memandanginya serius dan bingung. Memang ini adalah rapat mendadak yang mengejutkan para staff dan agen yang belum mempersiapkan bahan yang dibicarakan dalan rapat. Yoona tidak peduli itu, saat ini dia memang ingin membicarakan sesuatu pada para staffnya.

Ok.. Rapat ini saya ketahui pasti membuat kalian terkejut dan tidak memiliki persiapan bahan untuk pembahasan.. Kali ini kita tidak membahas hal yang berhubungan dengan perusahaan, disini akulah yang berbicara dan berpendapat.. Jikalau diantara kalian yang malas dan tidak suka dengan ucapan saya ini, dipersilahkan terlebih dahulu untuk keluar.. Dikarenakan saya ingin berbicara serius dan penting dalam rapat ini.” Bicara Yoona tegas, penuh penekanan. Tidak ada yang menyahuti dan tidak ada yang beranjak dari tempatnya. “Ok.. Arigatò.. (Terima kasih..)

Yoona tarik nafasnya panjang dan membuangnya kasar. Ia pandangi staffnya dan berdiri dari duduknya.

“Dikarenakan kasus yang melanda negara jepang kali ini lebih parah dari kasus sebelumnya, saya sepertinya memerlukan tenaga kerja yang lebih banyak untuk membantu saya.” Yoona jedakan ucapannya. “Dimulai hari ini perusahaan kita tidak akan menerima agen atau staff baru. Kalian pastilah tau, Dikarenakan perusahaan kita yang selalu terkena imbasannya oleh para penjahat tidak berhati nurhani itu. Mereka menyusuk masuk kedalan perusahaan ini, mengambil semua data dan menggagalkan rencana penyelesaian kita. Diharapkan kalian mengerti.”

Kini pandangan Yoona beralih pada seorang agen yang menggunakan kacamata minusnya. Rambut agen itu diikat kuda dan memperlihatkan leher jenjang gadis tersebut.

“Kau..!!” Yoona tunjuk gadis berkacamata tersebut. Semua staff yang berada disana menengok kearah agen tersebut dan mengerutkan dahinya. “Menyamarlah menjadi karyawan disalah perusahaan yang saya curigai..” bicara Yoona santai. spontan ucapan Yoona membuat para agen dan staff terkaget-kaget, terlebih lagi Siwon dan gadis berkacamata tersebut.

“intruksi..” Kimwon acungkan tangannya keatas dan menatap Yoona datar. “Bukankah yang anda ajak kerjasama sebelumnya adalah saya? mengapa anda menggunakan Tiffany sebagai penyamaran?”

Yoona yang mendengar pertanyaan dari mulut Siwon tadi hanya memberi senyum tipisnya. “Kau akan saya gunakan bukan dibagian penyamaran. Tananglah.. saya mempunyai cara tersendiri..”

Siwon yang mendengarkan penuturan kata dari mulut Yoona hanya bisa mendengus sebal. Ia alihkan pandangannya pada Tiffany yang saat ini tengah menatap Yoona dengan senyum cerahnya.

“Intruksi Nona Im.” Kini giliran Tiffany yang mengangkat tangannya. “Bukankah saya disini masih bisa terbilang baru? bahkan saya baru dua bulan menjadi seorang agen..”

Yoona yang mendengar penuturan kata dari mulut Tiffany hanya bisa memberi senyum tipisnya. “Bukankah itu bagus? kau masih sangat baru dan belum ada satupun public yang mengenalmu sebagai agen dari perusahaan ini. Itu akan sangat bagus dan bermanfaat. Ditambah lagi dengan kau memiliki otak cemerlang dan keahlianmu dalam komputer. Keahlianmu dapat aku gunakan untuk mencuri beberapa file tersembunyi yang berada diperusahaan tersebut.” Bicara Yoona panjang lebar dan ditanggapi anggukkan kecil oleh Tiffany.

“Intruksi Nona Im..” Diacungkan tangannya keatas dan tentu saja hal itu menarik Yoona untuk memandangnya. “Perusahaan siapa yang anda curigai?” tanya pria berkepala botak yang duduk tepat disamping Tiffany. Pria itu terlihat gagah dan lebih macho dengan kepala botaknya. Alis matanya terlihat tebal ditambah dengan warna biru matanya.

“itulah yang sedari tadi ingin saya bicarakan.. Mungkin kalian akan terkejut mendengar perusahaan yang saya ucapkan ini..” Yoona tarik nafasnya kuat. “dan perusahaan tersebut adalah perusahaan Kky Corp.” Yoona hembuskan nafasnya saat menyelesaikan ucapannya, ia berbicara hanya dalam satu tarikan nafas. Tepat saat Yoona menyelesaikan ucapannya. Beberapa orang menatapnya tidak percaya, tercengang dan mustahil. Bahkan Siwon yang duduk tepat disebelah kanannya menatap Yoona tidak yakin.

“Intruksi..” Siwon bangkit dari duduknya dan menatap Yoona jengkel dan heran. “Dari mana Anda menyimpulkan itu? itu sangatlah tidak mungkin.”

“Intruksi..” Terdengar lagi suara seseorang yang memohon diberi kesempatan bicara. “Setahu saya perusahaan itu menjalin hubungan dengan baik dengan perusahaan kita. Tidak mungkin perusahaan tersebut. Dan anda nona Im, anda tidak memiliki bukti kuat atas tuduhan anda..” bicara gadis berambut pirang tersebut tegas.

“Intruksi..” Terdengar -lagi- suara intruksi dari Tiffany. “Apa anda yakin, Nona Im? bahkan kita sudah bertahun-tahun lamanya menjalin hubungan baik dengan perusahaan tersebut.” Tiffany tatap Yoona sebal. Kalau dipikir secara logika memang mungkin, Perusahaan Kky Corp. telah menjalin hubungan dengan perusahaannya selama lebih dari empat tahun.

“Intruksi…”

BRAK… “SHUT UP..“Bicara Yoona jengkel.

Yoona pukul kedua tangannya diatas meja yang menimbulkan bunyi yang cukup keras di ruang rapat tersebut. Seketika itu pula terjadi keheningan diantara mereka semua, tidak ada lagi yang mengicapkan kata intruksi dan sebagainya.

Yoona pandangi satu per satu agen dan staffnya yang saat ini memandangnya ngeri. “Apa kalian meragukanku? Saya tanya… Apa selama ini tebakkan saya pernah gagal dalam menganalisa sesuatu?” geram Yoona. Tidak ada yang menjawab, hening seketika. “Diawal rapat sudah saya katakan.. Disini saya yang berbicara dan berpendapat..”

Kembali untuk kesekian kalinya Yoona menarik nafas dalam dan membuangnya kasar. “Bagi yang saya sebutkan namanya agar tetap didalam ruangan ini, yang lainnya dipersilahkan untuk keluar dari ruangan ini.”

“Siwon, Tiffany, Minho, Demi, Krystal, Sica, Jacob, Jason. Kalian tetap disini.. Selebihnya dipersilahkan untuk keluar..”

~~~~

Pembicaraan yang panjang dan melelahkan. Sekarang jarum jam menunjuk kearah jam tujuh malam. Mereka masih sibuk membicarakan kasus yang melanda jepang. Mereka juga merencanakan segala sesuatu untuk persiapan kedepannya.

“Apa yang kau buat, Jacob?” tanya Yoona yang saat ini tengah duduk tepat disamping Jacob.

Dengan lensa pembesar benda, Jacob membuat sesuatu yang tidak terlihat jika tidak menggunakan alat tersebut. Warnanya hitam dengan dengan setitik kecil berwarna coklat yang berada didalan benda tersebut. Bentuknya kotak dan diperkirakan besarnya sebesar 2 mm.

“Open a Password. Jika alat ini kau tempelkan ke benda yang dipasswordkan dengan otomatis benda ini akan membukakan dan memperlihatkan password tersebut. Contohnya seperti Komputer yang datanya dipasswordkan. Cukup kita tempelkan ini pada monitor komputer dan secara otomatis akan terlihat password dari komputer tersebut dan langsung terbukalah data yang tersimpan didalamnya.” bicara Jacob serius tanpa mengalihkan penglihatannya dari pekerjaannya. Yoona anggukkan kepalanya lalu mendekati Tiffany yang sedang berkutat pada komputernya.

“Apa yang kau lakukan, Tiffany?” Yoona pandangi komputer Tiffany yang saat ini tengah menampilkan data-data yang Yoona perkirakan pastilah penting.

“Aku sedang berusaha memasukkan data diri penyamaranku pada perusahaan tersebut. Dengan sinyal Wifi aku sambungkan. Mungkin disana akan terjadi sedikit kekacauan, tapi setelahnya mungkin akan baik-baik saja. Dipastikan besok aku akan dipanggil oleh perusahaan tersebut untuk wawancara penerimaan karyawan baru.” Bicara Tiffany diiringi dengan senyum tipis dibibirnya.

Yoona anggukkan kepalanya lalu meninggalkan Tiffany dan beralih pada Demi yang saat ini tengah membuat alat yang baru pertama kali Yoona lihat dalam seumur hidupnya. Bentuknya seperti senter, tetapi memiliki cahaya merah saat dinyalakan.

“Apa yang kau buat, Demi?” Tanya Yoona lagi yang sepertinya tertarik dengan apa yang dikerjakan Demi.

“Oh? Nona Im.. ini adalah Leser dengan rupa seperti senter. Jika leser ini menyinari seluruh tubuhmu, maka segala alat pelacak yang menempel pada tubuhmu akan mengalami kerusakan didalamnya dan tidak bisa mengirim informasi dimana kau berada ataupun alat pendengar suara.” Karya Demi perlu Yoona sambut sengan antusis. Yoona belum pernah membuat itu sebelumnya.

“Kerja yang bagus, Demi.” Yoona tepuk pelan punggung Demi dan bangkit mendekati Siwon.

Saat ini pria itu tengah menatap jendela besar yang langsung memperlihatkan pemandangan malam kota yang indah. Wajahnya terlihat datar dan sedikit gusar. Yoona yang menyadari itu hanya tersenyum tipis dan menepuk pelan bahu Siwon yang menyebabkan pria tersebut menatapnya heran.

“Aku tau kau tidak yakin dengan ini.. Aku mengerti.. Jika kau tidak bisa berkerja di posisimu yang aku perintahkan barusan, kau bisa bertukar posisi dengan Minho sebagai pengamat layar komputer yang akan selalu mengamati gerak-gerik yang terjadi di perusahaan tersebut.”

“Tidak.. Lebih baik seperti ini dari pada harus berdiam diri didepan layar komputer yang membosankan itu.” Dengus Siwon sebal saat membayangkan dirinya hanya berdim diri dan memberi kabar tentang situasi keadaan perusahaan tersebut.

Yoona yang mendengar itu hanya bisa tertawa kecil lalu menepuk bahu Siwon pelan. “Seishin.. (Semangat..)” Ujar Yoona lalu meninggalkan Siwon sendiri yang masih berdiri mematung menatap punggung Yoona yang semakin lama makin menjauhi dirinya dan berhenti di samping Minho.

Siwon helakan nafasnya berat. Mungkinkah ia bisa melakukan itu? Kita tidak tahu itu.. Hanya waktu dan takdir yang tahu..

To be Continue…

Hyaaaaaa…. udah sampai part 4 aja yah.. gk nyangka… >..< klu gk ada yang komen gk dilanjut 😛 hehe ._.v

Iklan

9 pemikiran pada “Mystery In Tragedy (Part 4)

  1. Halo, aku reader baru. Wkwks.
    Cerita mu keren, banyak teka tekinya, penasaran jadinya, hehe.
    Fanfic nya masih di lanjut ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s